Selasa, 18 Mei 2010

Anak Down Syndrome Raih Sabuk Hitam

Ketidak-sempurnaan bukanlah halangan untuk dapat meraih impian,justru ketidak-sempurnaan itulah yang harus kita gunakan untu semakin memacu semangat kita agar mendapatkan dan meraih impian kita. Tampaknya itulah yang benar-benar menjadi pedoman Adam stone, seorang siswa menengah Highlander Way di Howell yang terkena Syndrome Down.


Walaupun terkena syndrome down (sebuah penyakit yang erupa kelainan kromosom yang bisa mengakibatkan kurangnya pertumbuhan fisik dan mental anak tersebut), Adam tetaplah ingin menjadi anak yang normall seperti kebanyakan teman-temanya. Ia mempunyai sebuah impian besar, yaitu ingin meraih sabuk hitam karate, yaitu gelar prestasi tertinggi dalam ilmu kependidikan bela diri karate.

Adam pun kemudian masuk ke sebuah perguruan karate di Ohana, Fowlerville. Ia selalu rajin mengikuti pendidikan. Setiap ada jam latihan, dengan diantar kedua orang tuanya, ia selalu rajin mengikuti jam latihan karate. Ia ingin sekali meraih sabuk hitam di usinya yang masih 15 tahun.

Guru karatenya, Sam Larioza mengatakan bahwa adam selalu rajin mengikuti karate, ia selalu datang lebih awal dibandingkan teman-teman lainya, dan walaupun ia terkena syndrome down, ia tetap bisa menerima segala materi karate yang saya berikan, Ia pun mengalami peningkatan yang lebih pesat dibandingkan teman-temanya. Maka tak heran jika saat ujian terakhir, ia lulus dan mendapatkan sabuk hitam.

Cekidot!

Bocah 2 Tahun Hisap 4 Bungkus Rokok Sehari

dok. RCTI

MUSI BANYUASIN - Untuk anak seusianya, kebiasaan balita ini terbilang tidak biasa. AD, balita berumur 2,5 tahun memiliki kebiasaan terbilang aneh.

Dia adalah bocah perokok berat. Tidak tanggung-tanggung, dalam sehari warga Desa Telukkemang, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan ini mampu menghabiskan empat bungkus rokok.

Balita ini mulai merokok sejak berumur 1,5 tahun atau tepatnya setahun yang lalu. Awalnya AD terus menangis, namun tangisannya terhenti saat ia diberi rokok oleh ibunya. Sejak itulah anak tunggal pasangan Rizal dan Diana ini kecanduan rokok. AD pun selalu minta dibelikan rokok kepada orang tuanya layaknya seorang bocah meminta permen.

Jika tidak merokok, balita ini mengaku pusing hingga ia menangis. Bocah bertubuh gempal ini pun jarang makan dan ia lebih banyak mengisap rokok.

"Enak, mantap," jawab AD saat ditanya bagaimana rasanya merokok.

Kasus yang menimpa Aldi bukanlah yang pertama, sebelumnya seorang bocah di Malang berinisial SW juga memiliki hobi yang sama dengan AD. Selain hobi menghisap rokok, SW yang masih berusia empat tahun tersebut juga kerap berbicara kasar dan porno.
(Sutamin/Global/teb)


Cekidot!

Di Subang, Bocah 7 Tahun sudah Perokok Berat

Nusantara / Kamis, 8 April 2010 09:43 WIB

Metrotvnews.com, Subang: Setelah Sandi Adi Santoso, balita dari Malang, Jawa Timur, kini kembali ditemukan bocah yang juga kecanduan merokok. Kali ini Rinto, putra pasangan suami istri Wasih dan Kadir dari Kampung Sawangan, Cipendeuy, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Jika Sandi dari Malang, sehari bisa menghabiskan satu bungkus rokok, Rinto bisa lebih dua bungkus.

Kebiasaan ini dilakukan Rinto semenjak masih balita, yakni saat masih berusia tiga tahun. Orangtua Rinto, Wasih dan Kadir mengaku tak mampu menghentikan kebiasaan merokok anaknya. Seperti Sandi, Rinto menangis jika tak diberikan rokok. Tidak heran jika para tetangganya pun menjadi terbiasa melihat Rinto merokok.

Kendati telah mengonsumsi rokok selama empat tahun, menurut Wasih, anaknya sampai saat ini belum pernah mengalami keluhan kesehatan, seperti gangguan pada pernapasan.(Reza Sunarya/DSY)


Cekidot!

Bocah Autis Pasif Dikurung Orangtuanya

Sukabumi (ANTARA News) - Ratu Bilqis Nurhadi Ningrat (7), bocah perempuan pengidap autis pasif, terpaksa dikurung dalam kamar berjeruji besi di rumahnya di Jalan Gotong Royong, Gunung Puyuh, Kota Sukabumi, Jawa Barat, lantaran sering mengamuk.

Informasi dari keluarga Ratu Bilqis, Sabtu, menyebutkan, Ratu yang anak keempat dari pasangan purnawirawan TNI AD berpangkat kapten berinisial Nu (56) dan Nining Kusmiani (47), sering mengamuk dan merusak perabotan rumah bila tidak ditempatkan dalam kamar berjeruji itu.

Hampir setiap hari Ratu hanya bisa menangis dan melukai dirinya sendiri, kadang melukai ibunya, apabila keinginannya tidak bisa dipenuhi.

"Saya membuat teralis besi di dalam kamarnya agar Ratu tidak kabur keluar rumah. Saya tidak mau Ratu mengamuk di luar rumah yang bisa merusak perabotan milik orang lain," kata ibu kandung Ratu, Nining.

Ratu mulai terlihat menderita autis pasif saat mengijnjak usia dua tahun, namun pada awalnya Nining menduga anaknya sakit karena tertimpa asbak besar yang jatuh tepat di kepalanya.

"Dari pertama dilahirkan hingga usianya dua tahun, kondisi ratu normal dan bisa berbicara, namun setelah tertimpa asbak anak saya berbicaranya jadi tidak jelas dan kelakuannya menjadi hyper active," jelasnya.

Akhirnya, Nining dan suaminya membawa Ratu pergi ke dokter untuk diperiksa, tetapi dokter menilai tidak ada kelainan apa pun pada tubuh dan syaraf Ratu.

"Dokter mengatakan Ratu menderita autis pasif dan hanya bisa disembuhkan dengan terapi dan pengobatan yang teratur," ujarnya.

Semenjak diketahui Ratu menderita autis, ayahnya langsung pergi meninggalkan Ratu dan diduga juga telah membawa kabur uang istrinya sebesar Rp250 juta.

"Hingga kini, saya tidak tahu keberadaan Nu yang sudah memiliki istri sebelumnya," katanya.

Selain itu, Nu juga kerap bertindak kasar kepada Nining dan anak kedua dari suami sebelumnya, Salva Bintang (13).

"Saya hanya minta pertanggungjawaban ayahnya, karena kasihan Ratu tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Saya sangat butuh dana untuk kesembuhan putri saya ini," jelas Nining.

Nining yang mengaku jengkel dengan kelakukan Nu, kemudian melaporkan kejadian kekerasan yang dilakukan oleh suaminya tersebut pada 2004 lalu. Namun, kasus ini mengendap di Kejaksaan Negeri Sukabumi dan sampai sekarang kasus ini seperti dihentikan.

"Padahal berkas pengaduan saya sudah P21 dan dilimpahkan ke Kejari Sukabumi. Tetapi kenapa tidak disidangkan," katanya mempertanyakan aparat hukum.

Tim Psikiater dari RSUD R Syamsudin SH Kota Sukabumi Dr Dede Mariana yang melakukan pemeriksaan terhadap Ratu mengatakan, Ratu menderita autis pasif.

"Ini terlihat dari hasil pengamatannya yang dilakukan oleh timnya. Ratu tidak bisa berinteraktif langsung dengan orang di sekitarnya dan kelakuannya tidak seperti anak normal lainnya. Bahkan, terlihat hyper active yang bisa mencelakakan dirinya dan orang lain," katanya.

Dede Mariana berharap Ratu bisa mendapatkan terapi agar hidupnya bisa kembali normal. Penderita autis seperti itu harus mendapatkan perhatian ekstra dari orang di sekelilingnya, terutama orang tua.

"Hingga kini, kami belum mengetahui penyebab Ratu mengalami Autis," katanya.

(ANT/S026)

Cekidot!

Rabu, 28 April 2010

quote from my friend...

plagiat ide memang biasa di dunia web/blog , tapi klo copas brarti menjatuhkan reputasi web mereka sendiri & membuat web kita menjadi setingkat lebih baik. . .

Minggu, 11 April 2010

Bagaimana Pencegahan dan Pengobatan Down Syndrome?

Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis bagi para ibu hamil terutama pada bulan-bulan awal kehamilan. Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan Down Syndrome atau mereka yang hamil di atas usia 40 tahun harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki resiko melahirkan anak dengan Down Syndrome lebih tinggi. Down Syndrome tidak bisa dicegah, karena merupakan kelainan yang disebabkan oleh kelainan jumlah kromosom. Jumlah kromosom 21 yang harusnya cuma 2 menjadi 3. Penyebabnya masih tidak diketahui pasti. Yang dapat disimpulkan sampai saat ini adalah makin tua usia ibu makin tinggi risiko untuk terjadinya Down Syndrom. Diagnosis dalam kandungan bisa dilakukan dengan analisis kromosom dengan cara pengambilan CVS (mengambil sedikit bagian janin pada plasenta) pada kehamilan 10-12 minggu) atau amniocentesis (pengambilan air ketuban) pada kehamilan 14-16 minggu.

Pemeriksaan diagnostik

Untuk mendeteksi adanya kelainan pada kromosom, ada beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan, antara lain:

* Pemeriksaan fisik penderita
* Pemeriksaan kromosom
* Ultrasonography
* ECG
* Echocardiogram
* Pemeriksaan darah (Percutaneus Umbilical Blood Sampling)

Pengobatan

Sampai saat ini belum ditemukan metode pengobatan yang paling efektif untuk mengatasi kelainan ini. Pada tahap perkembangannya, penderita Down Syndrome juga dapat mengalami kemunduran dari sistim penglihatan, pendengaran maupun kemampuan fisiknya mengingat tonus otot-otot yang lemah. Dengan demikian penderita harus mendapatkan support maupun informasi yang cukup serta kemudahan dalam menggunakan sarana atau fasilitas yang sesuai berkaitan dengan kemunduran perkembangan baik fisik maupun mentalnya. Pembedahan biasanya dilakukan pada penderita untuk mengoreksi adanya defek pada jantung, mengingat sebagian besar penderita lebih cepat meninggal dunia akibat adanya kelainan pada jantung tersebut.

Cekidot gan!!!

Apa Pengaruh Down Syndrome Pada Perkembangan Seseorang?

Semua sindroma down mempunyai keterbelakangan yang berbeda skalanya, namun tidak tertutup kemungkinan akan timbulnya satu kekuatan atau kelebihan bakat pada setiap individu. Anak-anak sindroma down juga dapat belajar duduk, berjalan, berbicara, bermain dan melakukan kegiatan-kegiatan lainnya, namun tentu lebih lambat daripada anak-anak yang bukan penyandang sindroma down.
Anak sindroma down sesungguhnya memiliki potensi besar, karena yang memiliki kelainan hanyalah kromosome-nya, bukan otaknya ataupun bagian badannya yang lain. Kekurangan-kekurangan yang dideritanya adalah sebagai akibat. Meskipun sikap dan perkembangannya lamban, namun bila ditangani sejak dini, maka potensinya dapat dimaksimal mendekati anak normal.

Cekidot gan!!!

Peneliti Amerika Menemukan Teori Baru Mengenai Down Syndrome


Para peneliti dari Amerika Serikat baru-baru ini mengungkapkan teori terbaru penyebab down syndrome. Disebutkan bahwa hilangnya protein di otak dalam jumlah sedikit, bukan banyak seperti yang selama ini diduga, menjelaskan mengapa terjadi down syndrome.

Para peneliti menemukan, baik pada manusia dan mencit yang menderita down syndrome, memiliki kadar protein spesifik di otak lebih sedikit dibandingkan orang yang normal. Pada uji coba pemberian obat pada mencit, ternyata berhasil mengembalikan kadar protein menjadi normal kembali.

"Kini kita sampai pada paradigma baru bahwa kita seharusnya melihat jumlah protein yang berkurang dan bukannya yang berlebihan pada otak penderita down syndrome. Ini adalah peluang untuk mengembangkan terapi target pengobatan down syndrome," kata peneliti senior Terry Elton, profesor farmakologi dari Ohio State University, AS.

Cekidot gan!!!