Selasa, 18 Mei 2010

Tergoda Superkurus, Bocah pun Anoreksia



LONDON - Luar biasa keinginan Bryony untuk superlangsing. Dia mati-matian berusaha menurunkan berat badannya, seperti yang kerap dilakukan para model. Sampai-sampai, Bryony yang saat itu baru berusia 8 tahun terjangkiti anoreksia.

Bryony mulai berhenti mengonsumsi makanan yang mengandung kalori dan protein tinggi, seperti cokelat, daging, dan sebagainya. Ia pun makan dalam jumlah yang sangat sedikit. Berat badannya turun drastis, yang semula 44 kilogram tinggal 25 kilogram.

"Dia tidak mau makan sama sekali," kata Jackie Flicker, sang ibu, menceritakan keadaan yang dialami putrinya. "Dia berkata ingin mati, dan itu semua adalah salah saya," kenang seorang perawat ini.

Selama menderita anoreksia, Bryony merasa tersiksa. "Saya merasa payah dan tidak ingin berada dekat teman-teman. Saya merasa tidak berenergi dan merasa kedinginan sepanjang waktu. Jadi, saya tidak bisa berlari-lari seperti mereka. Saya tidak lagi sanggup makan dalam jumlah banyak, suara-suara dalam kepala saya mencegahnya," ungkap Bryony yang kini berusia 14 tahun. Dia kemudian dikirim menjalani rehabilitasi anoreksia di Rhodes Farm, sebelah utara London.

Menurut Dr Dee Dawson, pengelola Rhodes Farm, jumlah anak berusia di bawah 10 tahun yang menderita anoreksia meningkat 50 persen sejak dua tahun lalu. Riset yang dilakukan tahun lalu bahkan menemukan bahwa 70 persen anak berusia 7 tahun ingin tampak lebih kurus. "Kami terus-menerus menerima pasien usia muda," jelasnya.

Anoreksia merupakan suatu bentuk penyiksaan terhadap diri sendiri akibat takut gemuk akibat makan. Seperti halanya bulimia, anoreksia juga berbahaya bagi tubuh. Penderitanya mengalami gangguan makan yang menyiksa.

Dawson menyalahkan pesan-pesan ''makanan sehat'' yang didengungkan lewat berbagai media. ''Kita diberitahu untuk makan lima macam buah dan sayur tiap hari, dan mentega dikatakan sangat buruk. Coklat batang pun dilarang di sekolah-sekolah. Sayang anak-anak menelan pesan ini mentah-mentah dan melakukan diet yang malah menjerumuskan mereka dalam anoreksia. Yang lain terganggu pertumbuhan dan kondisi kesehatannya," papar Dawson.

Cekidot!

Bocah Merokok dan Bicara Cabul - “Aku Malas Sekolah, Mau Jadi Preman”

Sebuah video pendek muncul di You Tube, kemarin, dan langsung menyentak. Video berdurasi 3.29 detik dengan judul 'Anak Kecil Berbicara Kotor Dan Merokok! Dari Surabaya!' itu memperlihatkan seorang bocah sedang merokok dan berbicara kotor.


Gayanya merokok menunjukkan betapa ia sudah sangat terbiasa melakukannya. Dengan mulut yang dimonyongkan, balita berinisial SW (4 tahun) ini membentuk asap menjadi cincin-cincin kecil. Ia juga dengan bahasa yang sangat lugas menyebut (maaf) alat kelamin perempuan dan laki-laki.


Perilaku ini ternyata bukan tak diketahui orangtua SW. Mulud (40), ayah SW, mengaku kewalahan dengan perilaku SW. Semula ia berencana memasukkan SW ke sekolah, dengan harapan dapat merubah kebiasaan-kebiasaan buruk itu. "Namun dia tidak mau bersekolah. Katanya malas, mending ngene jadi preman (enak begini jadi preman - red). Sering pula dia bilang mau jadi maling," ujar Mulud di rumah rumpangannya Jalan Nusakambangan, Kota Malang, Rabu (31/3).


Sejak beberapa waktu lalu, Mulud dan anaknya memang menumpang di rumah Sinyo (24), temannya yang bekerja sebagai pengantar barang. Mulud sendiri pekerja bangunan serabutan. Sinyo merasa prihatin dengan perkembangan jiwa SW. "Kalau dibiarkan bisa makin rusak. Saya dan bapaknya berharap ada yang membantu menyekolahkan, biar jadi benar ini anak. Saya pikir dia jadi begitu karena lingkungannya dulu yang rusak. Dia pernah bilang sama saya kalau ada orang yang mengajarinya merokok," katanya.


Tiga Kekerasan


Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (PA) Seto Mulyadi menilai, SW mengalami tiga kekerasan sekaligus. "Sudah secara psikologis diajari sesuatu yang tidak sesuai umur, dia juga diajari sesuatu yang membahayakan kesehatannya yaitu merokok. Yang lebih parah, dia juga mengalami kekerasan yang disebut eksploitasi anak. Saya dengar di video itu ada yang tanya-tanya, dan waktu si anak menjawab tak benar, mereka, yang bersuara dewasa, ramai-ramai tertawa. Belum lagi video itu diposting pula ke dunia maya. Orang-orang jadi ingin melihat. Ini memprihatinkan," kata Kak Seto di Jakarta, kemarin.


Lalu siapa yang salah? Kak Seto mengaku tidak ingin menyalahkan orang tua sepenuhnya. Menurutnya, kondisi lingkungan tempat SW tinggal juga sangat berpengaruh. "Menyalahkan orang tua sepenuhnya tentu juga tidak bisa. Kita harus lihat apakah lingkungannya juga membiarkan atau tidak," kata Kak Seto. Menurutnya, SW harus segera diselamatkan dan menjalani sejumlah terapi untuk mengembalikan kondisi fisik dan psikisnya.


You Tube sendiri, sejak Rabu sore telah memblokir video tersebut. Sekitar pukul 15.00 WIB, video ini berganti sebuah pemberitahuan yang berbunyi, "Video ini telah dicopot karena pelanggaran aturan penggunaan". Selain secara jelas menampilkan seorang anak yang merokok dan berbicara cabul, ia pun tanpa sungkan memeragakan adegan hubungan intim.


Cekidot!

ANAK DOWN SYNDROME JUARA RENANG INTERNASIONAL





JAKARTA, KOMPAS.com - Tak pernah terbayang oleh Goieha (55), bahwa anaknya Reviera Novitasari (15) yang menderita down syndrome mendapat medali perunggu renang 100 meter gaya dada pada kejuaraan renang internasional di Canberra Australia, 11-13 April 2008.

"Saya tahu dia menderita down syndrome tak lama setelah bersalin. Waktu itu perasaan saya tidak karuan," aku Goieha pada Kompas.com.

Goieha ingat, sejak dilahirkan wajah anak keempatnya itu mempunyai paras muka yang hampir sama seperti muka orang Mongol. Untuk memastikan keadaan Reviera, dokter di R.S Manuela Jakarta menyarankan untuk memeriksakan darahnya di saat umurnya sudah enam bulan. "Saya sangat kaget dan sedih. Dokter memberikan gambaran terburuk, kalau anak down syndrome tidak bisa mandiri. Jangankan megang pensil, nyisir aja tidak bisa," ungkap isteri Tan Bun Hok (55) mengenang.

Dari hasil pemeriksaan laboratorium, kromosom Reviera berjumlah 47. Bayi normal dilahirkan dengan jumlah kromosom sebanyak 46 kromosom (23 pasang) yaitu hanya sepasang kromosom 21 (2 kromosom 21). Menurut penelitian para ahli, 95 persen penderita down syndrome memang disebabkan kelebihan kromosom 21.

Menurut Goieha, ia baru mulai bisa menerima Reviera, di saat anaknya yang kelahiran 30 Oktrober 1993 berumur tiga tahun. Saat itu, ia mulai menyekolahkannya di Sekolah Luar Biasa (SLB) Dian Grahita Kemayoran Jakarta. "Beruntung saya bertemu dengan orangtua yang senasib. Saya semakin menerima keadaannya ketika bergabung di ISDI (Ikatan Sindroma Down Indonesia)," tutur Goieha, yang anak ketiganya telah meninggal.

Situasi baru dalam batin Goieha ini tampaknya memengaruhi pola relasinya dengan Reviera. Anak yang saat ini sudah menginjak kelas 2 SMP ini mampu mementahkan ramalan dokter. "Di luar dugaan Reviera bisa menulis dan membaca. Berhitung juga sudah bisa. Kemampuan renangnya pun menonjol dibanding anak cacat lain," papar Goieha.

Sadar akan bakat anak keempatnya itu, ia memfasilitasi Reviera dengan latihan renang seminggu dua kali di Club SOINA (Special Olympic Indonesia) Sunter Jakarta. "Sebelum mengikuti lomba di Australia, Reviera rutin ikut lomba Porcada tingkat DKI dari tahun 2005-2007. Banyak penghargaan yang telah ia terima," ucap Goieha.

Di tengah perbincangan, Reviera meminta minum. Tak lama kemudian, ada seseorang memberikan ia sebotol air mineral. "Thank You," kata Reviera dengan cukup jelas. Kontan kejadian itu membuat kaget beberapa orang yang ada di sekitar kami. Dengan cepat ia menghabiskan minumnya, tanpa kehilangan senyumnya. "Mam...lapar," lanjut Reviera, kali ini ucapannya agak sulit ditangkap.

Senyum yang ditampakkannya itu seolah ingin memberitahu kepada khalayak bahwa ia bahagia. Karena, ia baru saja mendapat penghargaan Kategori Anak Penyandang Cacat Berprestasi Internasional dari Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta Swasono. "Bahagia...bahagia," paparnya dengan senyum lebar.

Kehadiran Reviera semakin diterima dalam keluarga. Ronald dan Rodney, saudaranya, sangat menyayangi dan melindungi Reviera. "Dia sangat disayang, apalagi umurnya jauh, sama yang kedua aja bedanya 8 tahun," kata Goieha.

Prestasi demi prestasi yang diukir Reviera membuat Goieha terus bertekad melatih renang putrinya. "Saya harap bisa dikirim ke Special Olympic World Summer Game di Athenna tahun 2011," harap Goieha, yang disambut anggukan oleh Reviera.

Cekidot!

Anak Down Syndrome Raih Sabuk Hitam

Ketidak-sempurnaan bukanlah halangan untuk dapat meraih impian,justru ketidak-sempurnaan itulah yang harus kita gunakan untu semakin memacu semangat kita agar mendapatkan dan meraih impian kita. Tampaknya itulah yang benar-benar menjadi pedoman Adam stone, seorang siswa menengah Highlander Way di Howell yang terkena Syndrome Down.


Walaupun terkena syndrome down (sebuah penyakit yang erupa kelainan kromosom yang bisa mengakibatkan kurangnya pertumbuhan fisik dan mental anak tersebut), Adam tetaplah ingin menjadi anak yang normall seperti kebanyakan teman-temanya. Ia mempunyai sebuah impian besar, yaitu ingin meraih sabuk hitam karate, yaitu gelar prestasi tertinggi dalam ilmu kependidikan bela diri karate.

Adam pun kemudian masuk ke sebuah perguruan karate di Ohana, Fowlerville. Ia selalu rajin mengikuti pendidikan. Setiap ada jam latihan, dengan diantar kedua orang tuanya, ia selalu rajin mengikuti jam latihan karate. Ia ingin sekali meraih sabuk hitam di usinya yang masih 15 tahun.

Guru karatenya, Sam Larioza mengatakan bahwa adam selalu rajin mengikuti karate, ia selalu datang lebih awal dibandingkan teman-teman lainya, dan walaupun ia terkena syndrome down, ia tetap bisa menerima segala materi karate yang saya berikan, Ia pun mengalami peningkatan yang lebih pesat dibandingkan teman-temanya. Maka tak heran jika saat ujian terakhir, ia lulus dan mendapatkan sabuk hitam.

Cekidot!

Bocah 2 Tahun Hisap 4 Bungkus Rokok Sehari

dok. RCTI

MUSI BANYUASIN - Untuk anak seusianya, kebiasaan balita ini terbilang tidak biasa. AD, balita berumur 2,5 tahun memiliki kebiasaan terbilang aneh.

Dia adalah bocah perokok berat. Tidak tanggung-tanggung, dalam sehari warga Desa Telukkemang, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan ini mampu menghabiskan empat bungkus rokok.

Balita ini mulai merokok sejak berumur 1,5 tahun atau tepatnya setahun yang lalu. Awalnya AD terus menangis, namun tangisannya terhenti saat ia diberi rokok oleh ibunya. Sejak itulah anak tunggal pasangan Rizal dan Diana ini kecanduan rokok. AD pun selalu minta dibelikan rokok kepada orang tuanya layaknya seorang bocah meminta permen.

Jika tidak merokok, balita ini mengaku pusing hingga ia menangis. Bocah bertubuh gempal ini pun jarang makan dan ia lebih banyak mengisap rokok.

"Enak, mantap," jawab AD saat ditanya bagaimana rasanya merokok.

Kasus yang menimpa Aldi bukanlah yang pertama, sebelumnya seorang bocah di Malang berinisial SW juga memiliki hobi yang sama dengan AD. Selain hobi menghisap rokok, SW yang masih berusia empat tahun tersebut juga kerap berbicara kasar dan porno.
(Sutamin/Global/teb)


Cekidot!

Di Subang, Bocah 7 Tahun sudah Perokok Berat

Nusantara / Kamis, 8 April 2010 09:43 WIB

Metrotvnews.com, Subang: Setelah Sandi Adi Santoso, balita dari Malang, Jawa Timur, kini kembali ditemukan bocah yang juga kecanduan merokok. Kali ini Rinto, putra pasangan suami istri Wasih dan Kadir dari Kampung Sawangan, Cipendeuy, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Jika Sandi dari Malang, sehari bisa menghabiskan satu bungkus rokok, Rinto bisa lebih dua bungkus.

Kebiasaan ini dilakukan Rinto semenjak masih balita, yakni saat masih berusia tiga tahun. Orangtua Rinto, Wasih dan Kadir mengaku tak mampu menghentikan kebiasaan merokok anaknya. Seperti Sandi, Rinto menangis jika tak diberikan rokok. Tidak heran jika para tetangganya pun menjadi terbiasa melihat Rinto merokok.

Kendati telah mengonsumsi rokok selama empat tahun, menurut Wasih, anaknya sampai saat ini belum pernah mengalami keluhan kesehatan, seperti gangguan pada pernapasan.(Reza Sunarya/DSY)


Cekidot!

Bocah Autis Pasif Dikurung Orangtuanya

Sukabumi (ANTARA News) - Ratu Bilqis Nurhadi Ningrat (7), bocah perempuan pengidap autis pasif, terpaksa dikurung dalam kamar berjeruji besi di rumahnya di Jalan Gotong Royong, Gunung Puyuh, Kota Sukabumi, Jawa Barat, lantaran sering mengamuk.

Informasi dari keluarga Ratu Bilqis, Sabtu, menyebutkan, Ratu yang anak keempat dari pasangan purnawirawan TNI AD berpangkat kapten berinisial Nu (56) dan Nining Kusmiani (47), sering mengamuk dan merusak perabotan rumah bila tidak ditempatkan dalam kamar berjeruji itu.

Hampir setiap hari Ratu hanya bisa menangis dan melukai dirinya sendiri, kadang melukai ibunya, apabila keinginannya tidak bisa dipenuhi.

"Saya membuat teralis besi di dalam kamarnya agar Ratu tidak kabur keluar rumah. Saya tidak mau Ratu mengamuk di luar rumah yang bisa merusak perabotan milik orang lain," kata ibu kandung Ratu, Nining.

Ratu mulai terlihat menderita autis pasif saat mengijnjak usia dua tahun, namun pada awalnya Nining menduga anaknya sakit karena tertimpa asbak besar yang jatuh tepat di kepalanya.

"Dari pertama dilahirkan hingga usianya dua tahun, kondisi ratu normal dan bisa berbicara, namun setelah tertimpa asbak anak saya berbicaranya jadi tidak jelas dan kelakuannya menjadi hyper active," jelasnya.

Akhirnya, Nining dan suaminya membawa Ratu pergi ke dokter untuk diperiksa, tetapi dokter menilai tidak ada kelainan apa pun pada tubuh dan syaraf Ratu.

"Dokter mengatakan Ratu menderita autis pasif dan hanya bisa disembuhkan dengan terapi dan pengobatan yang teratur," ujarnya.

Semenjak diketahui Ratu menderita autis, ayahnya langsung pergi meninggalkan Ratu dan diduga juga telah membawa kabur uang istrinya sebesar Rp250 juta.

"Hingga kini, saya tidak tahu keberadaan Nu yang sudah memiliki istri sebelumnya," katanya.

Selain itu, Nu juga kerap bertindak kasar kepada Nining dan anak kedua dari suami sebelumnya, Salva Bintang (13).

"Saya hanya minta pertanggungjawaban ayahnya, karena kasihan Ratu tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayahnya. Saya sangat butuh dana untuk kesembuhan putri saya ini," jelas Nining.

Nining yang mengaku jengkel dengan kelakukan Nu, kemudian melaporkan kejadian kekerasan yang dilakukan oleh suaminya tersebut pada 2004 lalu. Namun, kasus ini mengendap di Kejaksaan Negeri Sukabumi dan sampai sekarang kasus ini seperti dihentikan.

"Padahal berkas pengaduan saya sudah P21 dan dilimpahkan ke Kejari Sukabumi. Tetapi kenapa tidak disidangkan," katanya mempertanyakan aparat hukum.

Tim Psikiater dari RSUD R Syamsudin SH Kota Sukabumi Dr Dede Mariana yang melakukan pemeriksaan terhadap Ratu mengatakan, Ratu menderita autis pasif.

"Ini terlihat dari hasil pengamatannya yang dilakukan oleh timnya. Ratu tidak bisa berinteraktif langsung dengan orang di sekitarnya dan kelakuannya tidak seperti anak normal lainnya. Bahkan, terlihat hyper active yang bisa mencelakakan dirinya dan orang lain," katanya.

Dede Mariana berharap Ratu bisa mendapatkan terapi agar hidupnya bisa kembali normal. Penderita autis seperti itu harus mendapatkan perhatian ekstra dari orang di sekelilingnya, terutama orang tua.

"Hingga kini, kami belum mengetahui penyebab Ratu mengalami Autis," katanya.

(ANT/S026)

Cekidot!